Minggu, 01 Januari 2023

KESIMPULAN DAN REFLEKSI PERJALANAN PENDIDIKAN NASIONAL

 


KI HADJAR DEWANTARA

Nama               : Khairunnisak

Kelas               : Seni Budaya

MK                  : Filosofi Pendidikan

Mahasiswa PPG PRAJABATAN Gelombang 2

Kesimpulan dan Refleksi Diri Tentang Perjalanan Pendidikan Nasional

Pendidikan merupakan hal yang sangat berpengaruh dalam menuntun anak agar dapat menjadi individu yang merdeka. Oleh karena itu sebelum kita dapat mendidik seorang individu kita harus mengetahui bagaimana perjalanan pendidikan yang terjadi di Indonesia. Berikut adalah rangkuman perjalanan pendidikan nasional di Indonesia:

 

a. Pendidikan di Indonesia sebelum kemerdekaan (zaman kolonial)

Pada zaman kolonial Indonesia telah dijajah oleh beberapa negara, negara tersebut mempengaruhi pendidikan yang berada di Indonesia. Beberapa negara yang berpengaruh terhadap pekembangan pendidikan di Indonesia yakni:

·         1. Pendidikan pada masa Belanda

Belanda datang ke Pulau Jawa Indonesia untuk berdagang dan menciptakan kekuasaan baru setelah berakhirnya kekuasaan Portugis pada akhir abad ke-16. Belanda menganggap bahwa agama Katholik yang disebarkan oleh Portugis perlu digantikan dengan agama Protestan yang dianutnya. Berangkat dari pemahaman itulah sekolah-sekolah keagamaan didirikan terutama di daerah yang dulunya telah terpengaruh agama Nasrani (Katholik) oleh Portugis dan Spanyol. Sekolah pertama di Ambon didirikan oleh VOC pada tahun 1607. Pembelajaran yang diberikan yaitu membaca, menulis dan sembahyang. Guru pendidik berasal dari Belanda dan mendapat upah. Pendidikan yang dilakukan pada zaman kolonial terpaku terhadap ideologi bangsa Belanda, sehingga pembelajaran yang dilakukan sesuai dengan pemahaman Belanda yang berakibat pada pendidikan yang diatur secara sistematis agar murid/siswa yang mengikuti pendidikan di zaman kolonial akan mengikuti serta menjadikan pembelajaran yang didapatkan adalah sebuah landasan yang akan diteruskan kezaman berikutnya. Pendidikan yang diberikan oleh Belanda kepada masyarakat Indonesia bertujuan untuk menciptakan sumberdaya manusia masyarakat Indonesia yang siap menjadi tenaga kerja untuk Belanda dan diberi upah yang minim.

Namun, pendidikan yang diberikan oleh Belanda memberi dampak positif terhadap masyarakat Indonesia, masyarakat Indonesia mulai dapat belajar membaca dan menghitung. Selain itu dampak positif dari pendidikan yang diberikan Belanda adalah terbentuknya Lembaga pendidikan di Indonesia yang dibangun oleh tokoh-tokoh pendidikan. Tokoh-tokoh tersebut antara lain adalah:

(1) Bung Tomo yang mendirikan Kweek School,

(2) KH Ahmad Dahlan yang mendirikan pendidikan Muhammadiyah,

(3) Trikoro Dharmo yang mendirikan perkumpulan pemuda,

(4) RA kartini yang meperjuangkan hak perempuan, serta

(5) Ki Hadjar Dewantara yang mendirikan Taman siswa.

 

·       2.  Pendidikan pada masa Jepang

Jepang merupakan negara yang menjajah Indonesia dengan jangka waktu yang cukup pendek yakni dari 17 Maret 1942 sampai 17 Agustus 1945. Jepang juga memberikan pendidikan di Indonesia dengan tujuan untuk berperang. Masyarakat diajarkan bergotong-royong untuk membangun pertahanan untuk perang, masyarakat juga diajarkan untuk mengumpulkan hasil alam untuk bahan pangan perang. Sisi positif yang dapat diambil dari pendidikan yang diberikan oleh Jepang adalah pendidikan untuk bertahan dari peperangan yang dapat terjadi kapanpun.

Dari pendidikan yang telah diberikan oleh negara yang pernah menjajah Indonesia, dapat disimpulkan bahwa pendidikan yang diberikan merupakan pendidikan yang bertujuan untuk mencapai tujuan dari masing-masing negara. 

·          Sebelum Kemerdekaan 

a. Pendidikan hanya diberikan untuk kaum bangsawan.

b. Rakyat hanya diajarkan calistung (baca, tulis, dan hitung) seadanya.

 c. Kaum bangsawan yang mendapatkan pendidikan nantinya ilmu yang mereka dapatkan diajarkan kembali kepada masyarakat Hindia Belanda.

d. Pemerintah Hindia Belanda menyediakan sekolah profesi untuk memenuhi kebutuhan seperti Guru dan Dokter.

e. Tujuan pendidikan saat itu hanya untuk menyiapkan para calon pegawai yang bekerja pada instansi-intansi pemerintah Hindia-Belanda dan perusahaan-perusahaan mereka, sehingga pemerintah Hindia Belanda dapat meraup untung yang sebesar-besarnya.

f. Pendidikan yang didapatkan rakyat Indonesia yaitu seperti pelatihan menjahit, infrastruktur (seperti membuat jalan dan jembatan), dll.

g. Pendidikan cenderung meniru pembelajaran Barat yang mengutamakan intelektual dan bersifat individualisme. (Kemendikbud, 2020)

Pendidikan di Indonesia setelah kemerdekaan

                    Kebijakan mengenai pendidikan tertuang pada Undang- Undang Pokok Pendidikan dn pengejaran nomor 4 Tahun 1960.

Kurikulum yang pernah berlaku di Indonesia yaitu:

1.      Rentjana Pembelajaran 1947

2.      Rentjana Pembelajaran Terurai 1952

3.      Rentjana Pedidikan 1964

4.      Kurikulum 1964

5.      Kurikulum 1968

6.      Kurikulum 1994

7.      KurikulumnBerbasis Kompetensi (KBK) 2004

8.      Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006

9.      Kurikulum 2013

10.  Kurikulum Merdeka


REFLEKSI :

Sesudah kemerdekaan Dalam undang – undang dasar 1945 pasal 31 ayat 1 berbunyi “Setiap warga negara berhak mendapat  pendidikan.”  Tetapi  pada  praktiknya  terdapat  hal  yang  membelenggu kemerdekaan peserta didik yaitu ketidakmerataan sarana dan prasarana, akses wilayah, dan tenaga pendidik  yang tidak  merata di  setiap  pelosok  Indonesia. (Undang-Undang Dasar 1945  Pasal  31  Ayat 1).  Selain  itu,  metode  pembelajaran  yang  digunakan  yaitu  teacher-centered  yang  menjadikan  guru  sebagai  satu-satunya  sumber  pengetahuan  dengan menggunakan metode ceramah.

a. Sarana Prasarana  

Sarana  Prasarana  dalam  dunia  Pendidikan  menjadi  salah  satu  faktor  yang  sangat diperlukan  untuk  menunjang  proses  belajar  mengajar.  Namun,  kenyataan  masih  ada beberapa daerah yang sarana dan prasarana sekolahnya masih dirasa kurang memadai. Mulai dari tempat belajar (sekolah) yang sulit dijangkau, bangunan sekolah yang kurang layak, fasilitas sekolah yang kurang lengkap, hingga bahan ajar yang masih seadanya. Hal-hal tersebut secara tidak langsung dapat membelenggu kemerdekaan peserta didik dalam  belajar.  Dalam  konsep  merdeka  belajar,  peserta  didik  diharapkan  dapat mengeksplorasi lebih wawasan dan kreatifitas mereka dalam belajar.  Oleh karena itu pemerataan  pembangunan  dalam  dunia  pendidikan  harus  lebih  diperhatikan  agar kemerdekaan peserta didik dalam proses belajar mengajar dapat dicapai.

b. Media Pembelajaran dan Sumber Belajar 

Adanya media pembelajaran dalam suatu proses pembelajaran di Sekolah adalah merupakan aspek yang penting sebagai bagian diri upaya untuk mengkonkritkan sesuatu yang masih abstrak (yang belum jelas/dipahami oleh peserta didik). Hal ini bertujuan untuk mencapai proses, tujuan pembelajaran atau kompetensi yang telah dirumuskan. Dengan adanya media pembelajaran yang lengkap seperti, lab komputer, LCD proyetor, lab penunjang mapel, perpustakaan yang lengkap menyediakan buku- buku berkulaitas dan terbaru, pastinya akan mendorong peserta didik untuk lebih berkembang dan berkualitas.  Dalam proses pembelajaran tersebut, sumber belajar kaitannya erat dengan kesuksesan dari suatu pembelajaran. Karena sumber belajar berasal dari guru, data, lingkungan, dan informasi – informasi yang diambil oleh peserta didik. Dalam hal ini, wawasan peserta didik akan bertambah dan bekembang sesuai apa yang mereka dapatkan dan serap dari sumber belajar yang tersedia. Dengan demikian, dengan adanya sumber belajar  yang memadai  dimaksimalkan  dengan  media  pembelajaran  yang  memadai,  maka  proses pembelajaran akan berjalan secara optimal dan berkualitas.

c. Sumber Daya Manusia 

Setiap siswa memiliki keunikannya masing-masing. Setiap siswa mempunyai kekuatan, kelemahan,  minat,  dan  perhatian  yang  berbeda-beda.  Latar  belakang  keluarga,  latar belakang  sosial  ekonomi,  dan  lingkungan  juga  sangat  berpengaruh  dengan  gaya belajarnya.  Hal  yang  dapat  dilakukan  untuk  mencegah  hal  ini  terjadi  adalah  dengan melakukan  asesmen  diagnostik  di  awal  pembelajaran,  baik  itu  secara  non  kognitif maupun  secara  kognitif.  Dengan  demikian  Guru  dapat  mengetahui  karakter  siswa, kemampuan  pemahaman  siswa,  dan  juga  kendala  yang  siswa  hadapi.  Selain  itu, Minimnya jumlah guru yang berada di daerah membuat setiap guru kerap mengajar tak sesuai dengan ilmu yang mereka miliki. Hal ini dilakukan agar setiap murid khususnya pada pelajaran seni budaya bisa dikuasi dan dipelajari yang baik terkoordinasi.  Tidak  hanya  itu,  di  era  perkembangan  teknologi  yang  semakin  pesat,  guru  di tuntut untuk selalu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi pada kenyataannya guru yang sudah berusia lanjut enggan untuk mempelajarinya. Peran Orang tua peserta didik  juga  diperlukan  untuk  mendukung  proses  pembelajaran,  biasanya  orang  tua peserta didik hanya mengandalkan peran guru di sekolah saja.

            Dari sini saya merefleksi diri ketika nanti menjadi seorang guru kita harus tau apa yang menjadi kompetensi dari dalam diri anak didik saya lalu dari sanalah saya berangkat untuk mengembangkan potensi dirinya bukan menuntut peserta didik untuk menjadi pribadi yang bukan sebenarnya pada dirinya, tetapi tidak memaksakan apa yang menjadi keinginan saya supaya dilakukan oleh peserta didik namun apa yang menjadi kodratnya apa yang menjadi bakat dan mintanya itulah sebisa mungkin akan saya arahkan untuk mengembangkan potensi mereka, supaya peserta didik mencapai keselamatan dan kebahagiaan dalam mencapai tujuannya seperti pernyataan Ki Hadjar Dewantara tersebut.


Daftar Pustaka:

Departemen Pendidikan Nasional. (2003). Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tentang                     Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia.

Dewantara, K.H. (1967). Ki Hadjar Dewantara. Jogjakarta: Madjelis-Leluhur Taman-Siswa

Oemar Hamalik. 2005. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.











KESIMPULAN DAN REFLEKSI PERJALANAN PENDIDIKAN NASIONAL

  KI HADJAR DEWANTARA Nama               : Khairunnisak Kelas                : Seni Budaya MK                   : Filosofi Pendidikan Mahasi...